tugas statistik ke 1

 

Latihan

1. Jika Anda akan melakukan suatu penelitian apakah suatu tanaman dapat menjadi obat atau tidak apa langkah-langkah yang akan dilakukan?

2. Klasifikasikan jenis-jenis data berikut. Apakah termasuk kuantitatif (kontinu atau diskret), kategorik (ordinal atau nominal), atau tipe lainnya.

a) tekanan darah, tinggi badan, berat badan, umur;

b) banyak anak dalam suatu keluarga;

c) tidak setuju, netral, setuju;

d) golongan darah: O, A, B, AB;

e) hidup atau mati;

f) jenis kelamin (laki-laki/perempuan);

g) stadium penyakit kanker. 2                                     

3. Fahrenheit termasuk ke dalam skala interval. Misalkan dalam suatu percobaan untuk mengetahui kadar suatu zat tertentu A mengukur zat tersebut pada 40○F dan 50○F, tetapi B mengukur zat tersebut pada 35○F dan 45○F. Apakah selisih pengukuran suhu yang dilakukan A dan B sama?

4. Berikan contoh skala interval, rasio, ordinal, dan nominal.

 

Jawab

1)      Dalam pengertian seluas-luasnya Fitofarmaka diartikan sebagai obat yang terdiri atau terolah dari bahan tumbuhan, bagian tumbuhan atau produk basil olahnya. Dalam batasan yang lebih sempit Fitofarmaka diartikan sebagai sediaan obat yang berasal dari tumbuhan, dalam bentuk galenik tertentu, mengandung bahan-bahan aktif tumbuhan yang rasional. Efek farmakologi terdokumentasi dan khasiat pengobatannya sudah teruji secara klinis dengan klaim indikasi tertentu dan spesifik. Sebagai bahan obat yang berkhasiat fitofarmaka dapat bempa rajangan untuk diseduh,minyak atsiri, ekstrak atau sari perasan, sedangkan bentuk galeniknya dapat diberikan dalam bentuk sediaan tetes, tablet atau kapsul, serbuk atau granul ekstrak atau teh seduh.

 

    Untuk itu ada 3 hill strategis yang harus dikerjakan , yakni :

1.       Penetapan norma atau standar bahan nabati atau produk hasil olahnya.

Dalam pengertian praktis antara norma dan standar sering diartikan sama walaupun di antara kedua istilah tersebut ada perbedaan yang mendasar. Norma diartikan sebagai penetapan bioaktivitas simplisia atau ekstrak olahnya terbadap suatu senyawa atau kelompok senyawa berkhasiat dalam bahan nabati atau basil olahnya. Dengan perkataan lain norma suatu bahan nabati atau hasil olahnya ditetapkan atas dasar zat( -zat) berkhsiat yang dikandungnya. Sedangkan standar adalah semua cara penetapan yang dianggap perlu dengan tujuan memperoleh bahan atau produk olah bermutu tetap.

 

 Untuk kepentingan standarisasi biasanya dilakukan dengan menetapkan suatu senyawa atau kelompok senyawa tertentu sebagai parameter yang dikenal sebagai Zat identitas. Senyawa atau kelompok senyawa yang ditetapkan sebagai Zat identitas boleh jadi tidak menggambarkan bioaktivitas bahan atau ekstrak karena hanya merupakan alat penolong untuk menyatakan keseragarnan mutu dan reprodusibilitas proses dalam menghasilkan suatu produk. Dengan demikian bahan-bahan nabati atau hasil olahnya dimana zat bioaktifnya belum diketahui melalui penetapan zat( -zat) identitas keseragaman mutu dapat diperoleh baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Pedoman untuk memilih dan menetapkan zat(-zat) sebagai zat( -zat) identitas dapat didasarkan pada :

·         Sifat spesifik zat(-zat) di antara kandungan simplisia atau bahan olalrnya.

·         Zat( -zat) tersebut hams dapat ditetapkan secarn kualitatif dan kuantitatif. .

·         Secara kirnia zat( -zat) tersebut stabil.

·         (bila mungkin) menggambarkan kllasiat simplisia atau bahan olahnya.

Dari apa yang digambarkan di atas, maka penetapan norma atau standar suatu simplisia atau produk olahnya menjadi sangat strategis karena mencakup banyak aspek mulai dari otentitas tumbuhan, cara dan umur panen, bagian tanaman yang diambil, perlakuan pasca panen, penyimpanan dan kebenaran cara proses produksi.

2.       Uji manfaat dan keamanan pemakaian.

Sesuai dengan Undang-undang Kesehatan No. 23/1992 dan Garis-Garis Besar Haluan Negara tabun 1993, pemerintah menginginkan penggunaan obat tradisional (jamu atau fitofannaka) dapat dipertanggung jawabkan secara medis dalam pelayanan kesehatan normal

Oleh karena itu dalam rangka pemberdayaan tumbuhan asli Indonesia baik yang dipakai sebagai racikan Jamu atau yang ditingkatkan menjadi Fitofarmaka mutlak harus diuji kemanfaatan dan keamanannya. Berkaitan dengan aspek ini, maka untuk memperoleh lmsil yang dapat dipertanggung jawabkan dan dipercaya maka bahan simplisia atau basil olahnya, seperti ekstrak atau produk jadi terlebih dulu harus diketaui khasiatnya dalam bentuk penetapan norma dan untuk bahan yang normanya belum dapat ditentukan paling tidak dapat distandarisasi.

Mengapa harus delnikian, karena scbagaimana diketahui simplisia sebagai Suatu produk alami boleh jadi memiliki fluktuasi zat-zat kandunganya baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif, belum lagi adanya kemungkinan terbentuknya senyawa-senyawa artefak selama perlakuan pasca panen atau pasca proses produksi.

    Uji manfaat daD keamanan bahan-baltan nabati sebagai ballaD obat melllc1Dg bukan suatu fu11 yang sederhana, kenyataan bahwa bahan-ballaD tumbuhan yang dipc1kai dalam obat-obatan tradisional memang kebanyakan mempakan tanalnan yang Sudall dikenal, llc1mun demikian aspek keamanan produk obat -obatan herbal tersebut tetap perlu diteliti dan diuji. Aspek kemanfaatan Fitofannaka d.:1lam aspek pelayanan kesehatan fonnal mutlak barns diteliti d3ll diuji karena klaim indikasi klk1siat daD takaran lmrus terukur dan spesifik Hal lain yang hams disadari dan dipertimbangkan dalam pengujian khasiat bahan obat herbal adalah klasifikasi aksi famlakologi bahan. Pada umunmya tumbuhan berkhasiat yang dikenal dan dipakai secara farmakologis adalah temlaSuk klasifikasi berkekuatan sedang sampai ringan bahkan bersifat sangat ringan. Hal ini terlihat dari cara kerja obat-obatan herbal tersebut yang akumulatif dan kronis. Tentu tidak dapat dibandingkan dengan tumbuhan berkhasiat kerns dan drnstik seperti rnisalnya opium yang walaupun jelasjelas berasal dari nabati tetapi tidak lagi masuk konteks obat -obatan empiris. Aspek akumulatif daD kronis ini perlu diperlmtikan dalam mengevaluasi dan menilai khasiat obat-obatan herbal. Sebagai ilustrasi, percobaan yang dilakukan di laboratorium dalam rentang waktu jam kerja nonnal yakni 8 jam. Apa yang terjadi apabila khasiat yang dilmrnpkan terjadi baru muncul setelah 8 jam atau oleh karena aksi famlakologinya yang sedang dan ringan, reaksi baru terlihat pada pemberian uIang (akumuIasi), tentu tidak bisa dibandingkan dengan obat-obatan kirnia dimana efek farmakologisnya sudah terlihat dalam rentang waktu pemberian yang relatif (sangat) singkat. Tidak jarang terjadi basil penilaian bioaktivitas bahan obat herbal merupakan suatu kesimpulan yang false negatif

3.       Klaim indikasi yang jelas dan spesifik.

Comments